New York | Rampagoe – Kebudayaan Indonesia kembali mencatatkan prestasinya di panggung apresiasi seni internasional. Deny Tri Ardianto, seorang sineas sekaligus akademisi asal Surakarta, sukses mempresentasikan karya film tari terbarunya yang bertajuk Desire (2025) dalam ajang bergengsi The Dance on Camera Festival ke-54 yang dihelat di New York, Amerika Serikat.
Festival yang diselenggarakan pada bulan Februari tersebut diakui secara global sebagai salah satu wadah kurasi film tari tertua dan paling dihormati di dunia. Kesempatan eksklusif ini dioptimalkan oleh Deny untuk memproyeksikan kekayaan budaya Nusantara kepada audiens mancanegara. Ia memiliki visi strategis untuk menjadikan medium sinematografi sebagai instrumen diplomasi budaya yang progresif.
Kapasitas Deny dalam memadukan seni gerak dan seni visual tidak terbentuk secara instan. Tumbuh di lingkungan budaya Surakarta, ia telah aktif mempelajari seni tari sejak usia enam tahun di Sanggar Tari Arena Langen Budaya, serta kerap dilibatkan dalam pementasan sendratari epik Ramayana di Candi Prambanan. Latar belakang inilah yang menanamkan pemahaman mendalam mengenai dramaturgi yang kini ia terjemahkan ke dalam bahasa kamera.
Berdasarkan tinjauan akademisnya, film merupakan medium ekspresi seni yang paling kompleks karena menuntut fusi dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sastra, teater, seni rupa, musik, hingga kinestetik tari. Eksplorasi mendalam pada genre film tari memberikan tantangan artistik tersendiri baginya, terlebih karena genre spesifik ini masih membutuhkan lebih banyak eksposur di ekosistem perfilman Tanah Air.
Sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (UNS), Deny menaruh harapan besar agar pencapaiannya dapat menstimulasi kreativitas para sineas muda dan mahasiswa seni di seluruh Indonesia. Ia meyakini bahwa sintesis antara pelestarian akar tradisi dan penguasaan teknologi visual modern akan bermuara pada lahirnya karya-karya revolusioner berkaliber dunia.[]



